G. P. Kurniawan Halo saya kurniawan. Menulis merupakan kegiatan yang dapat mendorong seseorang untuk berpikir secara halus. Dalam blog ini saya akan menulis informasi mengenai topik yang saya sukai, yaitu topik agribisnis secara luas, teknologi, dan ekonomi.

Ciri – Ciri Pupuk Kompos Telah Matang atau belum (pupuk organik)

Kompos, bahan organik yang satu ini banyak dibuat untuk tujuan kegiatan pertanian, apa kamu sudah tahu apa kompos itu.? Bagaimana pembuatannya.? dan apa saja ciri-ciri kompos yang telah matang atau dengan kata lain telah menjadi pupuk organik.? Nah kali ini kita akan membahas secara lengkap mengenai kompos. Kompos merupakan bahan organik yang berasal dari sisa – sisa tumbuhan seperti dedaunan kering, batang pohon yang dan masih banyak lagi, ataupun kompos juga bisa berasal dari kotoran hewan seperti kotoran kambing, sapi, kelinci dan lain – lain.

Pupuk kompos mempunyai keunggulan pada pengaplikasian lahan pertanian ataupun media tanam, keunggulan yang paling mendasar ialah pupuk kompos mampu memperbaiki sifat fisik, struktur tanah, daya menahan air lebih baik, menjadi sumber nutrisi bagi tanaman dan masih banyak lagi. Dirumah saya pupuk kompos ini dibuat dari bahan – bahan organik yang ada seperti daun kering, rumput, batang pisang, kotoran kambing, kotoran ayam dan apa saja yang sumbernya bahan organik.

Sedikit berbagi pengalaman, untuk anda yang tinggal di daerah pedesaan, mendapatkan bahan – bahan untuk membuat pupuk kompos tergolong sangat mudah, tinggal bagaimana kita mengolahnya dengan benar.. kalau saya membuat pupuk kompos dengan cara membuat lubang persegi sedalam kurang lebih 2 -3 pada pekarangan tanah, kemudian nanti bahan – bahan organik tersebut dimasukan pada lubang yang telah dibuat tersebut, jadi saat hujan turun bahan – bahan organik tidak akan hanyut terbawa oleh aliran air, dan akan tetap pada lubang tersebut. Permasalahan yang paling mendasar pada lahan pertanian itu sebenarnya adalah terbawanya bahan – bahan organik pada lahan persawahan saat hujan deras karena terbawa air, maka dari itu kita perlu menyuplai kembali lahan persawahan dengan pupuk kompos ini agar struktur tanah menjadi baik kembali.

Pupuk Kompos

Lanjut ke pupuk kompos kembali, Pupuk organik yang telah dilakukan proses pengomposan sebelumnya sangat penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis pada tanah. Beberapa manfaat yang didapat jika kita menggunakann pupuk kompos adalah :

Manfaat Pupuk Kompos :

  • Menggunakan pupuk kompos / pupuk organik pada tanah akan memperbaiki strukur tanah menjadi lebih gembur dan memberikan ruang pori lebih untuk tanaman tumbuh.
  • Memperbaiki sifat kimiawi tanah
  • Memperbaiki sifat fisik tanah
  • Menjaga kelembaban pada tanah
  • Mempertinggi daya ikat unsur hara pada tanah
  • dan memperbaiki kehidupan jasad renik dalam tanah

Untuk dapat memperoleh kualitas kompos yang baik dan maksimal maka dalam proses pembuatannya harus tepat, kompos yang benar – benar matang akan berguna bagi tanaman dan tanah, tetapi kompos yang belum matang cenderung akan bersifat meracuni tanaman, walaupun nanti juga kompos akan terurai dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu.

Proses pengomposan pada dasarnya adalah penguraian bahan organik atau dinamakan proses dekomposisi bahan organik, pada prosesnya kegiatan pengomposan menggunakan berbagai macam mikroba dan jamur untuk mengdekomposisi bahan organik tersebut, untuk proses dekomposisi secara alami kita tidak perlu menambahkan bahan seperti bioaktivator (EM – 4) karena bahan organik akan terdekomposisi secara alami, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan kompos yang dibantu dalam proses dekomposisi oleh EM – 4 atau bioaktivator akan lebih cepat dalam prosesnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan pengomposan bahan organik..

faktor yang mempengaruhi kecepatan pengomposan bahan organik

  • Nisbah C/N bahan
    Dalam proses pengomposan nisbah C/N akan sangat mempengaruhi dalam proses pengomposan, pada nisbah C/N yang tinggi maka proses pengomposan bahan organik pun akan lebih lama sedangkan jika nisbah C/N rendah maka proses pengomposan akan lebih cepat. Menuru beberapa jurnal yang saya baca nisbah C/N yang paling baik (optimum) dalam proses pengomposan adalah 20 – 40.
  • Ukuran Bahan
    Ukuran bahan mempengaruhi kecepatan proses pengomposan, semakin besar ukuran bahan maka proses pengomposan akan semakin lama, tetapi sebaliknya semakin ukuran bahan kecil maka proses pengomposan akan lebih cepat. Pada praktiknya memang dalam pembuatan pupuk kompos semua bahan dijadikan cacahan terlebih dahulu agar cepat dalam proses pengomposan.
  • Kelembaban
    Kelembaban yang baik dalam proses pengomposan adalah 40 – 60 %, jika kelembaban terlalu tinggi maka proses pengomposan akan lebih lama atau bahkan tidak terjadi pengomposan karena mikoorganisme akan lambat dalam berkembang.
  • Suhu/temperatur
    Suhu dan temperatur yang optimal dalam proses pengomposan yaitu 30 -50 °C. Suhu atau temperatur ini berpengaruh terhadap aktivitas mikroorganisme yang membantu dalam proses pengomposan. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan mikroorganisme akan mati dan sebaliknya apabila suhu rendah maka aktivitas organisme dalam pengomposan tersebut belum ada atau belum aktif. Proses pengomposan akan terjadi kenaikan suhu yaitu sekitar 55-60°C sehingga dalam proses pengomposan perlu adanya pembalikan kompos untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi. Setelah proses pengomposan selesai dan kompos mencapai tingkat kematangan maka suhu kompos akan menurun.
  • Keasaman bahan
    Tingkat keasaman pada proses awal pengomposan biasanya asam dan apabila proses engomposan berhasil maka pH dari kompos tersebut akan netral. Adapun standar tingkat keasaman yang terdapat pada proses pengomposan yaitu 6,5-7,5
  • Penggunaan aktivator
    Penggunaan aktivator ini berhubungan dengan orgnisme yang membantu dalam proses pengomposan. Dengan adanya aktivator dalam proses pengomposan akan mempercepat dekomposisi bahan organik sehingga proses pengomposan akan berlangsung lebih cepat.

Kompos untuk dapat digunakan dengan aman dan memiliki kandungan unsur hara yang maksimal dapat ditentukan oleh tingkat kematangan kompos tersebut. Beberapa faktor untuk mengetahui tingkat kematangan suatu kompos diantaranya:

  1. Temperatur kompos yang menurun/rendah pada akhir pengomposan (stabil)
  2. Nisbah C/N < 20
  3. Tidak ada aktivitas serangga atau larva pada akhir pengomposan
  4. Hilangnya bau / tidak berbau
  5. Muncul warna putih atau abu-abu karena berkembangnya antinomicetes
  6. Perubahan warna menjadi coklat sampai hitam
  7. Tekstur kompos remah dan apabila digunakan pada tanah memberikan efek positif untuk pertumbuhan tanaman

G. P. Kurniawan Halo saya kurniawan. Menulis merupakan kegiatan yang dapat mendorong seseorang untuk berpikir secara halus. Dalam blog ini saya akan menulis informasi mengenai topik yang saya sukai, yaitu topik agribisnis secara luas, teknologi, dan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *